KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) tengah mengkaji pasokan listrik panas bumi sebesar 5 megawatt (MW) ke pusat data, dengan PLTP Kamojang sebagai proyek percontohan. Langkah ini ditempuh untuk membuktikan panas bumi bisa menjadi sumber energi mandiri bagi data center tanpa perlu terkoneksi ke jaringan listrik lain. Kajian ditargetkan rampung pada kuartal I-2027 sebelum perusahaan mencari mitra off taker.
Direktur Utama PGE Ahmad Yani menyatakan panas bumi dapat menciptakan energi independen untuk mendukung operasional data center. Menurut dia, sumber listrik dari geothermal memungkinkan pusat data beroperasi tanpa bergantung pada pasokan energi lain, sekaligus menekan emisi karbon.
PGE menjadikan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang sebagai lokasi uji coba. Pada tahap awal, perseroan menyiapkan pasokan 5 MW sebagai bagian dari pembuktian konsep atau proof of concept.
Pusat data dikenal sebagai konsumen listrik dan air dalam jumlah besar, terutama untuk sistem pendinginan. Isu konsumsi air inilah yang menurut Yani tengah menjadi perhatian publik dan mendorong PGE membuktikan bahwa panas bumi bisa menjadi jawaban.
"Sekarang kan pada heboh terkait dengan (konsumsi) air. Ini kita coba dengan pilot project untuk memperlihatkan proof of concept secara teknologi, aspek lingkungan, dan commerciality-nya," ujar Yani dalam temu media di Jakarta, Rabu (4/11/2026).
Uji coba di Kamojang juga akan mengukur sejauh mana udara sejuk di kawasan PLTP bisa menekan kebutuhan air untuk pendinginan data center. Jika pusat data dibangun dekat pembangkit, konsumsi air untuk cooling disebut berpotensi berkurang.
Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGE Edwil Suzandi mengungkapkan satu isu yang masih ditelaah, yakni dampak pasokan listrik langsung ke data center terhadap suplai perseroan ke PLN. PGE perlu memastikan langganan baru ini tidak mengganggu komitmen listrik yang sudah berjalan.
"Kami juga sedang melakukan kajian. Apabila PGEO langsung memproduksikan listrik buat data center, apakah mengganggu suplai listrik kami ke PLN," ucap Edwil.
Kajian menyeluruh mencakup aspek teknologi, lingkungan, dan komersial. Prosesnya masih berjalan dan ditargetkan selesai pada kuartal I-2027, sehingga pencarian mitra data center bisa dilakukan setelahnya.
Meski kajian belum tuntas, PGE mengaku sudah menjalin komunikasi intens dengan sejumlah pemain data center yang berpotensi menjadi off taker atau pembeli listrik. Edwil menyebut diskusi ini sebagai persiapan sebelum skema komersial final ditetapkan.
"Alhamdulillah untuk data center hari ini PGEO sedang berdiskusi intens dengan pemain data center player untuk menjadi off taker. Kalau data center ini kita kembangkan," tegasnya.
Langkah PGE masuk ke rantai pasok data center menandai pergeseran peran produsen listrik panas bumi, dari sekadar pemasok ke PLN menjadi penyedia energi langsung bagi industri digital. Jika proof of concept di Kamojang berhasil, skema serupa berpeluang direplikasi di wilayah kerja panas bumi lain milik perseroan.
Bagi pasar, inisiatif ini menjadi sinyal diversifikasi pendapatan PGEO di luar penjualan listrik ke PLN, sekaligus menjawab kebutuhan data center akan pasokan energi hijau yang stabil dan minim emisi.