KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Gelandang Timnas Inggris Alex Scott mengungkap beratnya perjalanan karier dari Guernsey menuju Premier League, termasuk rutin terbang ke Inggris setiap akhir pekan sejak usia muda. Perjalanan itu menuntut pengorbanan finansial orang tuanya dan membuatnya kehilangan waktu bersama teman-teman.
Scott menghabiskan masa kecil hingga usia 16 tahun di Guernsey, salah satu pulau di Channel Islands yang bukan bagian dari daratan Inggris. Untuk mengejar mimpi menjadi pesepak bola profesional, ia harus bolak-balik terbang ke Inggris guna mengikuti sesi latihan bersama Southampton dan Bournemouth.
Jadwal latihan di daratan utama membuat hidup Scott muda nyaris tanpa ruang bersantai. Ia mengaku setiap akhir pekan harus terbang, sebuah rutinitas yang membebani kondisi keuangan keluarganya.
"Itu menyenangkan tapi berat, terutama bagi orang tua saya," kata Scott kepada FourFourTwo. "Terbang setiap akhir pekan secara finansial sulit, dan sampai satu titik saya tidak lagi bertemu teman-teman dan hampir tidak punya kehidupan di rumah. Rasanya hanya sekolah, terbang, main bola, lalu terbang pulang."
Titik terendah datang ketika Southampton melepasnya. Scott mengaku sempat kehilangan gairah terhadap sepak bola dan memilih berhenti dari rutinitas terbang ke Inggris.
"Saat saya dilepas dari Southampton, saya kehilangan sedikit minat pada sepak bola dan penerbangan, jadi itu mungkin keputusan terbaik yang saya ambil untuk berhenti, dan menikmati sepak bola serta tumbuh dewasa bersama teman-teman," ujarnya.
Keputusan itu membawanya kembali bermain untuk Guernsey FC, klub yang berkompetisi di piramida sepak bola Inggris. Konsekuensinya tetap sama: perjalanan lintas laut untuk setiap laga tandang.
Adaptasi dengan kompetisi daratan utama tidak berjalan mulus. Scott mengingat periode awal bersama Guernsey FC ketika tribun dan lintasan stadion mereka sedang direnovasi.
"Mungkin untuk delapan atau sembilan pertandingan pertama, tribun atau lintasan Guernsey sedang diperbaiki, jadi semua laga dimainkan di kandang lawan," kenangnya. "Setiap akhir pekan kami terbang untuk laga tandang, tapi itu pengalaman yang saya nikmati, bepergian dengan pemain-pemain lebih tua saat saya masih 16 tahun."
Di balik bebannya, perjalanan rutin ke Inggris ternyata menjadi berkah tersembunyi. Scott menilai bermain di daratan utama membuat bakatnya lebih mudah terlihat oleh pemandu bakat.
"Itu sangat besar pengaruhnya. Kalau saya hanya bermain di Guernsey, sangat sulit untuk sampai ke daratan dan mendapat kesempatan. Bermain di daratan, ada lebih banyak mata yang melihat, bahkan di liga-liga itu," tuturnya.
Scott juga menegaskan kebanggaannya mewakili tempat kelahirannya. "Semua keluarga saya masih di sana. Saya bangga berasal dari Guernsey dan berhasil menembus Premier League," katanya.
Setelah tiga tahun memperkuat Bristol City, Scott kini bermain untuk Bournemouth di Premier League. Penampilannya bersama klub dan Timnas Inggris U-21 membawanya masuk ke skuad senior Inggris.
Perjalanan dari pulau kecil berpenduduk sekitar 60 ribu jiwa itu menjadi bukti bahwa jalur menuju level tertinggi sepak bola Inggris tidak selalu lurus. Scott menyampaikan kisahnya dalam acara di toko PUMA di Oxford Street, London, toko flagship pertama merek tersebut di Eropa.