Wall Street Melemah, Nasdaq Anjlok 2,6% Tertekan Kekhawatiran Belanja AI

Penulis: Hendrizal Satria  •  Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:23:01 WIB
Indeks Nasdaq Composite anjlok 2,6% ke level 26.008,86 pada perdagangan Kamis (22/10).

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Indeks Nasdaq Composite anjlok 2,6% ke level 26.008,86 pada perdagangan Kamis (22/10), penurunan harian terbesar dalam beberapa pekan terakhir. Aksi jual dipicu kekhawatiran pasar terhadap besarnya kebutuhan pendanaan perusahaan kecerdasan buatan (AI), yang dinilai mulai membebani kapasitas kredit. S&P 500 ikut turun 1,21% ke 7.663,43, sementara Dow Jones justru bertahan tipis di zona hijau.

Tekanan jual berpusat pada saham-saham teknologi yang terkait langsung dengan ekspansi infrastruktur AI. Meta Platforms merosot sekitar 7% meski pendapatannya melampaui ekspektasi pasar dan proyeksi kinerja perusahaan tergolong optimistis. Pasar membaca rencana belanja modal raksasa Meta untuk AI sebagai sinyal bahwa kebutuhan pendanaan sektor ini akan terus membengkak.

Sentimen serupa menghantam produsen cip. Advanced Micro Devices (AMD) anjlok lebih dari 8%, Micron Technology turun 6%, dan Nvidia melemah 4%.

CoreWeave Jadi Titik Tekanan Paling Dalam

Saham CoreWeave, penyedia infrastruktur komputasi awan khusus AI, merosot 10% dan menjadi sorotan utama pasar. Analisis yang dikutip CNBC menyebut imbal hasil obligasi dan credit default swaps (CDS) perusahaan tersebut masih bertahan di level tinggi.

Pemicunya adalah pernyataan CEO Nvidia Jensen Huang. Ia menyebut permintaan terhadap layanan neocloud berada di level sangat tinggi, tetapi menambahkan bahwa keterbatasan modal menghambat pertumbuhan sektor tersebut.

Komentar Huang soal kelangkaan modal itu memicu kekhawatiran baru di pasar. Para trader Wells Fargo dalam catatannya menilai pernyataan tersebut kembali menghidupkan kecemasan mengenai kapasitas pasar kredit dalam menampung kebutuhan pendanaan perusahaan AI.

Meta dan Pemilihan Paruh Waktu AS Perparah Sentimen

Wells Fargo juga menyoroti pernyataan Meta mengenai besarnya kebutuhan pendanaan AI. Menurut mereka, pernyataan itu membuat saham Meta berbalik melemah dan turut menekan pasar secara keseluruhan.

Trader JPMorgan mencatat sentimen optimistis pada Rabu berbalik arah pada perdagangan semalam. Perubahan terjadi setelah saham Meta melemah di perdagangan prapasar, bersamaan dengan menguatnya kekhawatiran atas potensi eskalasi konflik dengan Iran setelah pemilihan paruh waktu AS bulan depan.

Catatan JPMorgan kepada klien juga menyebut pergerakan harga saham dan masukan tim perdagangan menunjukkan kekhawatiran pendanaan AI masih membayangi pasar. Kepercayaan investor terhadap pemulihan saham teknologi dinilai masih rapuh.

Harga Minyak Melonjak 4%, Brent Tembus US$ 113

Di sisi lain, harga minyak mentah melonjak setelah The New York Times melaporkan, dengan mengutip sejumlah sumber, bahwa AS dan Israel memiliki rencana melancarkan serangan kembali terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu AS.

Kontrak berjangka Brent naik 4% dan ditutup di level US$ 113,17 per barel. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) meningkat 2,39% menjadi US$ 99,47 per barel.

  • Nasdaq Composite: -2,6% ke 26.008,86
  • S&P 500: -1,21% ke 7.663,43
  • Dow Jones: +11,89 poin (0,02%) ke 52.867,98
  • Meta Platforms: -7% | AMD: -8% | Micron: -6% | Nvidia: -4% | CoreWeave: -10%
  • Brent: +4% ke US$ 113,17 per barel | WTI: +2,39% ke US$ 99,47 per barel

Apa Artinya bagi Investor Indonesia

Pelemahan Wall Street berpotensi menekan sentimen IHSG pada pembukaan sesi berikutnya, terutama saham teknologi dan emiten yang terpapar siklus belanja pusat data. Lonjakan harga minyak di atas US$ 113 per barel juga menjadi risiko baru bagi inflasi global dan biaya energi domestik.

Bagi pelaku pasar obligasi, perhatian akan tertuju pada pergerakan yield surat utang AS. Kenaikan yield akibat kekhawatiran pendanaan AI dan risiko geopolitik bisa memperlebar spread kredit perusahaan teknologi, yang pada akhirnya memengaruhi aliran modal ke pasar emerging, termasuk Indonesia.

Reporter: Hendrizal Satria
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top