KOBA — Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Bangka Tengah Atika Anggraini menyatakan program dirancang menumbuhkan kepedulian siswa terhadap lingkungan lewat penerapan kebiasaan ramah lingkungan di sekolah. Cakupan penerima program tersebar di 32 SMP negeri dan swasta di kabupaten tersebut.
“Program ini dirancang untuk menumbuhkan kepedulian siswa terhadap lingkungan melalui penerapan kebiasaan ramah lingkungan di sekolah,” kata Atika di Koba, Sabtu.
Pelaksanaan eco green school menekankan empat area utama: penghematan energi, pengelolaan sampah, penghematan air, dan pengurangan polusi udara. Sekolah didorong membiasakan siswa menghemat penggunaan air dan energi, mengelola sampah secara bertanggung jawab, serta mengurangi aktivitas yang menimbulkan pencemaran udara.
Atika menegaskan program tidak hanya memberi pemahaman tentang pentingnya menjaga lingkungan. Siswa juga didorong terlibat langsung dalam menjaga kebersihan dan menerapkan perilaku ramah lingkungan dalam aktivitas sehari-hari.
Sebagai bagian dari pelaksanaan, 32 siswa mengikuti kompetisi pemilihan duta lingkungan. Sebanyak 320 siswa lain berpartisipasi dalam lomba kreasi menjaga kebersihan sekolah.
Dua ajang tersebut menjadi wadah praktik langsung bagi pelajar, bukan sekadar teori di kelas. Dindik Bangka Tengah juga mencakup pemantauan ke sekolah untuk melihat perkembangan penerapan kebiasaan ramah lingkungan.
“Dengan demikian, pelaksanaan program diharapkan tidak berhenti pada sosialisasi, tetapi berlanjut menjadi budaya di lingkungan pendidikan,” ujar Atika.
Dindik Bangka Tengah berharap kebiasaan yang dibentuk di sekolah tidak berhenti di lingkungan pendidikan. Siswa diharapkan membawa perilaku hemat air, hemat energi, dan pengelolaan sampah ke rumah dan lingkungan tempat tinggal.
“Dengan begitu, pendidikan lingkungan dapat membentuk perilaku positif yang meluas ke keluarga dan masyarakat,” kata Atika.
Program eco green school diprakarsai Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Bangka Tengah sebagai upaya meningkatkan literasi dan kepedulian pelajar terhadap kebersihan serta kelestarian lingkungan secara berkelanjutan. Pemantauan berkala menjadi kunci agar kebiasaan tersebut bertahan setelah masa sosialisasi berakhir.