Kunjungan Wisatawan Jatiluwih Bali Turun 30 Persen Imbas Antrean BBM

Penulis: Yusrizal Ahmad  •  Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:21:31 WIB
Wisatawan menyusuri jalur trekking di kawasan terasering Jatiluwih, Tabanan, Bali.

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Daya Tarik Wisata Jatiluwih di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, mencatat penurunan kunjungan hingga 30 persen dalam sepekan terakhir. Pengelola menyebut antrean kendaraan di sejumlah SPBU sebagai pemicu utama melemahnya kunjungan sejak 11 Oktober 2026. Kondisi pasokan bahan bakar yang belum normal dikhawatirkan memperpanjang dampak ke sektor pariwisata setempat.

Manajer Operasional DTW Jatiluwih, I Ketut Purna alias John, menyampaikan tanda-tanda penurunan mulai terlihat bersamaan dengan munculnya antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar umum. Data pengelola mencatat kunjungan pada 11 Oktober 2026 masih mencapai 1.130 orang, sebelum merosot tajam ke angka 695 orang sehari kemudian.

Angka itu terus melemah menjadi 529 orang pada 13 Oktober. Sempat ada kenaikan ke 751 orang pada 14 Oktober, tetapi sehari berselang kembali turun ke 562 orang dan hanya naik tipis menjadi 730 orang pada 16 Oktober.

Rekapitulasi tersebut merupakan gabungan wisatawan mancanegara dan domestik. Menurut John, mayoritas pengunjung menuju Jatiluwih dengan kendaraan roda empat, sehingga kelangkaan BBM dan antrean di SPBU langsung memukul mobilitas mereka.

Mengapa Antrean BBM Berdampak Besar ke Jatiluwih

Jatiluwih dikenal sebagai kawasan terasering sawah warisan budaya yang membentang di lereng Bali tengah. Posisinya yang berada di jalur pedesaan membuat hampir semua pengunjung bergantung pada kendaraan pribadi atau rombongan bus, bukan transportasi umum reguler.

Ketika pengisian bahan bakar harus mengantre panjang, waktu tempuh wisatawan ikut membengkak. Rombongan yang biasanya datang pagi untuk mengejar cahaya terbaik di sawah bisa membatalkan rencana atau mengalihkan tujuan ke destinasi lain yang lebih dekat.

"Penurunannya mencapai 30 persen. Tanda-tanda penurunan kunjungan mulai terlihat sejak adanya antrean di SPBU," ujar John, Sabtu (17/10/2026).

Angka Harian yang Menunjukkan Tren Pelemahan

Fluktuasi kunjungan sepanjang 11-16 Oktober memperlihatkan pola naik-turun yang belum stabil. Lonjakan pada 14 Oktober sempat memberi harapan, namun angka kembali melemah keesokan harinya sebelum naik tipis di akhir pekan.

Bagi pengelola, data harian ini jadi alarm. Penurunan 30 persen bukan angka kecil untuk destinasi yang mengandalkan kunjungan harian, terutama karena Jatiluwih juga menjadi sumber penghidupan warga sekitar melalui homestay, warung, dan pemandu lokal.

Harapan Pengelola pada Perbaikan Pasokan BBM

John menyatakan kondisi kelangkaan bahan bakar dan antrean di SPBU diduga kuat memengaruhi keputusan wisatawan. Jika situasi berlanjut, pengelola khawatir aktivitas pariwisata di Jatiluwih terdampak lebih jauh.

"Kami berharap kelangkaan BBM ini bisa segera teratasi, lalu lintas kembali normal, dan aktivitas pariwisata juga kembali normal," kata dia.

Bagi traveler yang tetap berencana ke Jatiluwih dalam waktu dekat, sebaiknya memastikan kendaraan terisi penuh sebelum berangkat dari Denpasar atau Ubud. Informasi terkini soal jam buka, tarif masuk, dan kondisi akses dapat dikonfirmasi langsung ke pengelola DTW Jatiluwih atau dinas pariwisata setempat.

Durasi ideal untuk menjelajah terasering tetap sekitar dua sampai tiga jam, cukup untuk menyusuri jalur trekking utama dan menikmati pemandangan dari beberapa titik pandang. Datang lebih pagi memberi peluang lebih besar mendapat cuaca cerah sekaligus menghindari kepadatan kendaraan di jalur menuju Penebel.

Reporter: Yusrizal Ahmad
Sumber: travel.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top