KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Rusia menyatakan kapasitas ekspor bahan bakar dieselnya bisa menyentuh 3 juta hingga 3,5 juta ton per bulan pada akhir 2026, jauh di atas volume yang disepakati dalam kesepakatan pasokan energi dengan Amerika Serikat. Wakil Perdana Menteri Alexander Novak menyebut level itu berpotensi mengembalikan ekspor solar Moskow ke posisi sebelum krisis, ketika serangan pesawat nirawak Ukraina dan pembatasan ekspor menekan pengiriman.
Pernyataan Novak disampaikan melalui saluran televisi pemerintah Rossiya-24 dan dikutip Reuters, Selasa (13/10/2026). Menurutnya, Rusia memiliki ruang fiskal dan teknis untuk menaikkan pengiriman bahan bakar diesel ke pasar global, meski sejumlah kilang masih dalam proses pemulihan pascaserangan.
Angka yang disebut Novak berada di atas komitmen yang diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat pekan lalu. Trump menyatakan Rusia akan segera memasok lebih dari 300.000 ton solar, disusul 500.000 ton pada November, dan 1 juta ton pada periode berikutnya.
Selisih antara proyeksi Novak dan angka Trump menunjukkan Moskow memposisikan diri memiliki keleluasaan lebih besar dari yang tertuang dalam kesepakatan. Novak menyebut tambahan pasokan itu akan membantu menyeimbangkan permintaan dan penawaran di pasar global.
Dampak dari tambahan pasokan mulai terlihat di pasar. Novak menyatakan harga solar dunia telah turun sekitar 5–6 persen, sinyal bahwa pelaku pasar merespons positif pelonggaran aliran bahan bakar dari Rusia.
Penurunan harga itu datang ketika kenaikan harga solar di Amerika Serikat membebani perusahaan angkutan truk dan petani. Tekanan biaya bahan bakar menjelang pemilihan paruh waktu AS pada 3 November menjadi salah satu alasan Washington melonggarkan sanksi terhadap bahan bakar Rusia yang sebelumnya ditujukan membatasi pendapatan Moskow untuk membiayai perang di Ukraina.
Sebelum rangkaian serangan pesawat nirawak Ukraina terhadap kilang minyak Rusia pada 2024–2025, ekspor solar Moskow telah melampaui 3 juta ton per bulan. Serangan itu memukul kapasitas pengolahan dan memaksa Moskow memberlakukan pembatasan ekspor.
Meski membatasi pengiriman ke banyak tujuan, Rusia masih memasok solar ke sejumlah negara, terutama di Asia Tengah, melalui kesepakatan antarpemerintah. Menurut sumber industri, ekspor ke kawasan tersebut mencapai 427.000 ton pada bulan lalu.
Bagi pelaku pasar energi, pernyataan Novak menjadi sinyal bahwa pasokan global berpotensi bertambah signifikan hingga akhir 2026. Namun realisasi target 3,5 juta ton per bulan bergantung pada kecepatan perbaikan kilang yang terdampak serangan dan kelanjutan pelonggaran sanksi dari Washington.
"Kita akan melihat bagaimana situasinya berkembang lebih lanjut, tetapi Rusia memiliki kapasitas untuk meningkatkan ekspor bahan bakar diesel," kata Novak.