KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Musim NBA 2026/2027 bergulir mulai 20 Oktober waktu Amerika Serikat atau 21 Oktober dini hari WIB. Sejumlah pemain muda memasuki musim kedua dengan beban ekspektasi lebih besar, dari Cooper Flagg di Dallas hingga Stephon Castle di San Antonio.
Liga akan dibuka dengan tiga pertandingan pada opening night. Boston Celtics bertandang ke Detroit Pistons pukul 02.00 WIB, Philadelphia 76ers menghadapi juara bertahan New York Knicks pukul 06.00 WIB, lalu San Antonio Spurs menjamu Oklahoma City Thunder pukul 08.30 WIB. Laga terakhir menjadi ulangan final Wilayah Barat musim lalu.
Bagi para sophomore, musim kedua kerap jadi titik balik. Mereka sudah melewati kerasnya jadwal padat, tekanan pertandingan tandang, dan fisik pemain veteran. Kini saatnya membuktikan apakah lonjakan performa bisa berlanjut.
Pemain Dallas Mavericks itu mencatat rata-rata 21 poin, 6,7 rebound, dan 4,5 assist pada musim rookie. Capaian tersebut mengantarkannya menjadi Rookie of the Year 2025/2026 sekaligus memimpin seluruh rookie dalam urusan mencetak angka.
Musim ini situasinya berbeda. Kyrie Irving kembali dari cedera, sementara pelatih baru Dusty May tengah membangun sistem yang lebih sesuai dengan kemampuan serba bisa Flagg. Kombinasi itu membuka peluang bagi Flagg untuk masuk pembicaraan sebagai salah satu pemain muda terbaik liga.
Pilihan kedua NBA Draft 2025 ini memang tidak selalu menjadi starter pada musim rookie. Namun perannya terus membesar, terutama ketika Spurs memasuki playoff. Harper mencatat 11,8 poin dan 3,4 rebound per pertandingan di musim reguler, lalu meningkat menjadi 14,1 poin dan 5,6 rebound di playoff.
NBA bahkan menempatkannya sebagai salah satu kandidat breakout Spurs untuk musim 2026/2027. Dengan menit bermain yang kemungkinan bertambah, Harper berpeluang menjadi bagian utama Spurs bersama Victor Wembanyama dan Stephon Castle — bukan sekadar proyek masa depan, mengingat Spurs musim lalu sudah mencapai NBA Finals.
Castle sudah melewati satu musim sebagai Rookie of the Year 2024/2025 dan terus menunjukkan perkembangan dalam mencetak angka serta playmaking. Musim lalu, rata-rata assist per 36 menitnya melonjak dari 5,5 menjadi 8,9 — peningkatan terbesar di antara 290 pemain yang memenuhi syarat statistik NBA.
Usianya baru 21 tahun. Chemistry-nya dengan Wembanyama menjadi modal penting bagi Spurs yang menargetkan kembali ke Final. Jika tembakan perimeter dan pengambilan keputusannya semakin konsisten, bukan tidak mungkin Castle mulai masuk percakapan kandidat All-Star pertamanya.
Philadelphia 76ers menjadi salah satu tim dengan perubahan terbesar pada musim panas. Mereka kini memiliki LeBron James, Jaylen Brown, Joel Embiid, dan Tyrese Maxey. Keberadaan bintang sebanyak itu justru bisa memberi Edgecombe ruang yang menguntungkan.
Pada musim rookie, pilihan ketiga NBA Draft 2025 tersebut mencatat 16 poin, 5,6 rebound, 4,2 assist, dan 1,4 steal per pertandingan. Ia juga menjadi rookie dengan rata-rata steal tertinggi. Kehadiran LeBron dan Brown membuat pertahanan lawan lebih sibuk, sehingga Edgecombe dapat memanfaatkan ruang untuk menyerang closeout, berlari dalam transisi, dan menjadi ancaman dari perimeter.
Pertanyaannya bukan lagi soal bakat, melainkan seberapa cepat para pemain muda ini mengubah potensi menjadi produksi nyata di panggung NBA.