KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — PT Pertamina Patra Niaga memastikan harga BBM nonsubsidi per 13 Oktober 2026 tidak mengalami perubahan, dengan Pertamax Turbo dibanderol Rp19.600 per liter untuk wilayah PBBKB 5 persen seperti DKI Jakarta. Kebijakan menahan harga ini diambil setelah mempertimbangkan berbagai faktor dan kondisi masyarakat. Keputusan tersebut berlaku di seluruh SPBU Pertamina di Indonesia.
Paragraf pembuka: VP Corporate Communication PT Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora menyatakan harga BBM nonsubsidi masih sama seperti periode sebelumnya pada September 2026. Penyesuaian harga disebut mempertimbangkan berbagai faktor dan kondisi masyarakat sebelum diputuskan.
Berdasarkan harga yang berlaku per 2 September 2026, Pertamax Turbo untuk wilayah dengan PBBKB 5 persen dijual Rp19.600 per liter, naik dari sebelumnya Rp18.300. Kenaikan juga terjadi pada Pertamax Green 95 yang kini dibanderol Rp19.150 per liter dari sebelumnya Rp16.600.
Untuk jenis diesel, Dexlite meningkat menjadi Rp23.700 per liter dari sebelumnya Rp19.700. Sementara Pertamina Dex melesat jadi Rp25.200 per liter dari sebelumnya Rp21.150.
Kitty menjelaskan keputusan menahan harga nonsubsidi diambil dengan mempertimbangkan berbagai faktor dan kondisi masyarakat. "Adapun untuk BBM nonsubsidi, dengan mempertimbangkan berbagai faktor dan kondisi masyarakat maka sampai saat ini masih diterapkan harga yang sama dengan periode sebelumnya," ujar Kitty dalam keterangan resmi, Kamis (1/10/2026).
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Pertamina tidak serta-merta menyesuaikan harga mengikuti pergerakan harga minyak dunia. Kondisi ekonomi masyarakat menjadi pertimbangan utama sebelum melakukan penyesuaian.
Harga yang bertahan ini memberikan kepastian biaya bahan bakar bagi pengguna kendaraan pribadi di wilayah dengan PBBKB 5 persen. Konsumen Pertamax Turbo, Pertamax Green 95, Dexlite, dan Pertamina Dex tidak mengalami perubahan pengeluaran dibandingkan periode sebelumnya.
Bagi pelaku usaha yang bergantung pada BBM nonsubsidi, seperti operator logistik dan transportasi, stabilitas harga ini membantu perencanaan biaya operasional jangka pendek. Sementara pengguna BBM subsidi seperti Pertalite tetap mengacu pada harga yang ditetapkan pemerintah.
Penutup: Keputusan Pertamina menahan harga nonsubsidi per 13 Oktober 2026 memberi ruang bagi masyarakat untuk menyesuaikan anggaran tanpa kejutan kenaikan. Posisi ini juga menunjukkan Pertamina masih memprioritaskan daya beli konsumen di tengah dinamika harga energi global.