KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Tekanan psikologis akibat media sosial kini jadi ancaman nyata bagi anak sekolah dan remaja Indonesia. Data Kemenkes mencatat 34.961 kasus depresi pada kelompok usia sekolah dan remaja hingga Juli 2026. Berikut penjelasan lengkapnya agar ibu bisa lebih waspada dan mendampingi anak dengan tepat.
Kementerian Kesehatan menyoroti kebiasaan membandingkan diri dengan pencapaian orang lain di dunia maya sebagai pemicu utama kecemasan pada anak muda. Konten kemewahan dan kesuksesan yang berseliweran di beranda sering membuat remaja merasa tertinggal, padahal apa yang tampil di layar belum tentu menggambarkan kenyataan.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menjelaskan bahwa media sosial kerap hanya menampilkan hasil akhir tanpa memperlihatkan perjuangan di baliknya.
"Media sosial sering kali hanya menampilkan hasil akhir tanpa memperlihatkan perjuangan di baliknya," ujar Imran.
Remaja yang masih mengembangkan kemampuan berpikir dan mengelola emosi paling rentan terpapar tekanan ini. Mereka belum punya cukup pengalaman untuk memilah mana yang nyata dan mana yang sekadar pencitraan.
Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) mencatat 186.629 orang dewasa dan lansia mengalami depresi hingga Juli 2026. Angka pada kelompok anak usia sekolah dan remaja mencapai 34.961 orang.
Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) juga menunjukkan 80% kelompok remaja hingga dewasa merupakan pengguna internet paling aktif. Artinya, hampir seluruh remaja Indonesia terhubung ke dunia maya setiap hari.
Ibu perlu peka pada perubahan perilaku anak yang mungkin muncul perlahan. Beberapa tanda yang bisa diperhatikan:
Perubahan kecil yang dibiarkan bisa berkembang jadi masalah serius jika tidak segera ditangani.
Pendampingan orang tua jadi kunci utama. Mulai dengan membangun komunikasi terbuka tanpa menghakimi, sehingga anak merasa aman bercerita tentang apa yang dilihatnya di layar.
Batasi waktu layar sesuai usia anak dan sepakati aturannya bersama-sama. Ajak anak melakukan aktivitas offline seperti olahraga, memasak, atau berkebun untuk mengalihkan perhatian dari dunia maya.
Jangan lupa memberi contoh. Jika ibu sendiri sering scroll tanpa henti, anak akan meniru kebiasaan itu.
Segera konsultasikan ke psikolog atau dokter jika anak menunjukkan gejala depresi selama lebih dari dua minggu. Tanda yang perlu diwaspadai antara lain sedih berkepanjangan, kehilangan minat pada hal yang disukai, hingga muncul pikiran menyakiti diri sendiri.
Jangan tunda. Penanganan dini membuat proses pemulihan jauh lebih cepat dan efektif.
Media sosial bukan musuh, tapi butuh pengawasan bijak dari orang tua. Dengan memahami risikonya dan mendampingi anak secara konsisten, ibu bisa membantu mereka tumbuh sehat secara mental di tengah gempuran dunia digital.