BANGKA BELITUNG - Sentra kerajinan batik cual menjadi salah satu tujuan menarik untuk mengenal wastra Bangka Belitung lebih dekat, terutama bagi pencinta kain tradisional yang ingin melihat hubungan antara motif, keterampilan perajin, dan sejarah daerah.
Di Pangkalpinang, keberadaan galeri dan pengrajin Cual membuat pencarian terhadap sentra kerajinan batik cual tidak berhenti pada aktivitas membeli kain, tetapi dapat menjadi perjalanan untuk memahami bagaimana warisan lama diterjemahkan ke dalam produk fesyen masa kini.
Kain Cual memiliki akar sejarah yang panjang. Profil Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menyebut perkembangan kain ini berkaitan dengan Muntok sekitar abad ke-17 dan memiliki hubungan dengan tradisi songket Palembang.
Dalam perkembangannya, Cual kemudian dikenal sebagai salah satu kain khas Bangka Belitung.
Sebelum menentukan tempat kunjungan, penting memahami alasan Pangkalpinang kerap menjadi rujukan ketika membicarakan Cual.
Kota ini bukan sekadar lokasi penjualan, tetapi juga menjadi ruang bertemunya tradisi keluarga, perajin, pelaku UMKM, dan inovasi desain.
Penelitian Universitas Bangka Belitung yang terbit pada 2024 mencatat Cual Ishadi dan Cual Maslina sebagai dua pengrajin yang masih mempertahankan eksistensi usaha Cual di Pangkalpinang.
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa inovasi produk, strategi harga, pemasaran, dukungan keluarga, pemerintah, dan kelompok menjadi bagian dari strategi mempertahankan usaha.
Warisan keluarga: sebagian pengetahuan dan koleksi Cual diturunkan lintas generasi.
Produksi dan penjualan berjalan beriringan: tempat tertentu berfungsi sebagai galeri sekaligus ruang pengenalan kain.
Motif terus dikembangkan: motif lama menjadi sumber inspirasi bagi kain tenun maupun produk batik.
Pasarnya semakin luas: pemerintah daerah pada Februari 2026 bahkan memperkenalkan peluang ekspor kain Cual dan batik Bangka Belitung ke Kuala Lumpur. Sentra Kerajinan Batik Cual yang Layak Dikunjungi
Pangkalpinang memiliki beberapa titik yang dapat dimasukkan dalam rute wisata budaya. Pilihannya tidak harus diperlakukan sebagai toko oleh-oleh semata, sebab masing-masing tempat memiliki karakter dan sejarah yang berbeda.
Batik Cual ISHADI menjadi salah satu nama yang paling erat dengan pelestarian Cual di Pangkalpinang.
Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pernah mencatat lokasi Kain Cual Ishadi di Jalan Ahmad Yani sebagai tempat untuk melihat beragam kain Cual, termasuk koleksi lama yang dikaitkan dengan sejarah keluarga pemiliknya.
Museum atau galeri Ishadi juga pernah menjadi lokasi kegiatan pengenalan dan pameran batik Cual. Pada 2024, Museum Ishadi Cual menjadi tempat penyelenggaraan fashion show batik Cual dan Kampung Katak.
Hal yang dapat diperhatikan ketika berkunjung:
Koleksi lama: perhatikan kain yang dipajang sebagai bagian dari sejarah Cual.
Motif: tanyakan nama motif, sumber inspirasinya, serta apakah motif tersebut berasal dari koleksi Cual lama.
Material: jangan menyamakan seluruh produk Cual sebagai kain dengan bahan dan teknik yang sama.
Produk modern: bandingkan kain tradisional dengan produk batik atau busana yang sudah disesuaikan untuk kebutuhan masa kini.
Informasi daring mengenai lokasi Batik Cual Ishadi mencantumkan jam operasional Senin–Sabtu pukul 09.00–18.00. Karena jadwal usaha dapat berubah, pengecekan sebelum datang tetap lebih aman.
Koperasi Tenun Cual Ibu Maslina merupakan pilihan lain di Pangkalpinang. Lokasinya tercatat di kawasan Selindung.
Penelitian Universitas Bangka Belitung juga memasukkan Cual Maslina sebagai salah satu pelaku utama yang diteliti dalam konteks keberlangsungan pengrajin Cual di era modern.
Tempat seperti ini menarik bagi pengunjung yang ingin melihat sisi ekonomi kerajinan secara lebih dekat. Kain tradisional tidak lahir dari satu proses singkat.
Di belakang selembar kain terdapat pemilihan bahan, penyusunan motif, keterampilan tangan, waktu pengerjaan, hingga strategi pemasaran.
Galeri Destiani dapat menjadi pilihan bagi pencari produk Cual yang menginginkan perpaduan antara teknik tradisional dan pendekatan desain kontemporer.
Situs resmi galeri menyebut penggunaan teknik tenun ATBM dan pengangkatan motif flora-fauna Bangka Belitung, termasuk Lebah Pelawan dan Bunga Ketuyut.
Alamat yang dicantumkan galeri berada di Jalan Adhyaksa No. 3, Kacang Pedang, Gerunggang, Pangkalpinang.
Hal menarik dari galeri ini adalah pendekatan produknya. Cual tidak harus selalu hadir dalam bentuk kain tradisional untuk acara adat.
Pengembangan produk dapat membuat motif daerah masuk ke pakaian sehari-hari, aksesori, maupun busana dengan potongan modern.
Membeli Cual sebaiknya tidak dilakukan hanya berdasarkan warna yang paling menarik. Nilai sebuah kain dapat dipengaruhi oleh teknik pembuatan, material, tingkat kerumitan motif, ukuran, dan status produknya sebagai kain tradisional atau hasil pengembangan.
Tanyakan apakah kain merupakan:
tenun tradisional;
tenun menggunakan ATBM;
batik tulis;
batik cap;
kain bermotif Cual hasil pengembangan desain;
atau produk tekstil bermotif yang menggunakan unsur visual Cual.
Pertanyaan tersebut penting karena istilah “Cual” dapat digunakan dalam konteks produk yang berbeda. Pemerintah Provinsi Babel sendiri dalam dokumen perencanaan industri mencatat adanya pendampingan untuk meningkatkan kemampuan produksi batik Cual tulis dan batik Cual cap, sekaligus diversifikasi produk sentra batik Cual.
Motif merupakan salah satu pintu masuk untuk membaca identitas kain. Sumber pemerintah daerah mencatat motif seperti Kembang Gajah, Bunga Cina, Naga Bertarung, dan Burung Hong.
Sementara itu, kajian mengenai kain tenun Cual juga mencatat variasi seperti Burung Garuda, Kembang Setangkai, Kembang Rukem, Kembang Kenanga, Gajah Mada, Ubur-ubur, Merak, Bebek Setaman, dan Kembang Setaman.
Perbedaan daftar motif tersebut menunjukkan bahwa kekayaan Cual cukup luas dan tidak tepat direduksi menjadi satu pola tunggal.
Kain bernilai bukan hanya karena label “asli”. Riwayat pembuatannya juga penting.
Pertanyaan yang dapat diajukan kepada penjual atau perajin:
Siapa pembuat kain?
Teknik apa yang digunakan?
Berapa lama proses pengerjaannya?
Bahan benang apa yang digunakan?
Apakah motifnya merupakan motif tradisional atau interpretasi baru?
Apakah kain dibuat secara manual atau menggunakan mesin?
Bagaimana cara perawatannya?
Jawaban atas pertanyaan tersebut membantu membedakan produk berdasarkan karakter sebenarnya, bukan semata-mata berdasarkan harga.
Harga Cual memiliki rentang yang lebar karena material, teknik, kerumitan, dan tingkat pengerjaan dapat berbeda.
Profil Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencatat harga kain Cual mulai dari puluhan ribu rupiah hingga jutaan rupiah, sementara jenis songket Cual tertentu dapat mencapai sekitar Rp15 juta per lembar.
Karena itu, tidak tepat menggunakan harga murah atau mahal sebagai satu-satunya indikator keaslian.
Kain dengan harga lebih rendah bisa saja merupakan produk batik cap atau produk turunan dengan material berbeda.
Sebaliknya, kain yang mahal dapat memiliki nilai lebih tinggi karena pengerjaan manual, bahan tertentu, kerumitan motif, atau nilai historis.
Agar kunjungan terasa seperti perjalanan budaya, bukan sekadar berburu oleh-oleh, rute dapat disusun dengan pola berikut.
Awali kunjungan dengan melihat koleksi lama. Fokuskan perhatian pada perubahan bentuk motif, warna, dan material.
Kunjungi tempat lain seperti galeri atau koperasi untuk membandingkan pendekatan produksi. Perhatikan perbedaan desain dan jenis kain.
Setelah melihat beberapa pilihan, barulah menentukan kain yang akan dibawa pulang. Pilih berdasarkan teknik, motif, material, dan cerita di balik pembuatannya.
Pola perjalanan seperti ini membuat kain tidak berhenti sebagai benda belanja. Ada pengetahuan yang ikut dibawa pulang.
Di balik keindahan motif, terdapat persoalan yang tidak kalah penting. Regenerasi perajin menjadi salah satu tantangan.
RRI pada 2025 melaporkan bahwa pelaku kerajinan Cual menilai regenerasi penting karena proses pembuatan yang panjang membuat sebagian generasi muda kurang tertarik mempelajarinya.
Ketersediaan bahan baku seperti benang sutra dan pewarna alami juga disebut menjadi tantangan.
Penelitian Universitas Bangka Belitung turut menemukan persoalan regenerasi, persaingan produksi, dan proses produksi sebagai hambatan dalam mempertahankan keberadaan pengrajin Cual.
Karena itu, membeli langsung dari perajin memiliki arti yang lebih besar daripada sekadar transaksi. Ada rantai pengetahuan dan keterampilan yang ikut dipertahankan.
Tidak selalu. Cual secara historis dikenal sebagai kain tradisional yang berkaitan dengan tradisi tenun. Dalam perkembangannya, motif Cual juga diterapkan pada produk batik tulis dan batik cap.
Pangkalpinang merupakan salah satu titik penting karena terdapat pelaku dan galeri seperti Ishadi Cual dan Cual Maslina. Pemerintah daerah juga mencatat sejumlah galeri Cual sebagai bagian dari aktivitas wisata kota.
Tidak. Harga harus dilihat bersama teknik, bahan, tingkat kerumitan, ukuran, dan proses pengerjaan.
Beberapa motif yang banyak disebut dalam sumber mengenai Cual Bangka Belitung antara lain Kembang Gajah, Bunga Cina, Naga Bertarung, Burung Hong, serta berbagai motif flora dan fauna lainnya.
Menelusuri Cual di Pangkalpinang pada akhirnya bukan hanya tentang menemukan kain yang indah.
Ada jejak Muntok, tangan perajin, motif flora-fauna, ingatan keluarga, dan upaya generasi baru agar warisan tersebut tidak berhenti menjadi benda museum.
Dari sanalah sentra kerajinan batik cual terasa hidup: kain bergerak dari masa lalu, melewati tangan perajin hari ini, lalu menemukan bentuk baru di masa depan.